Third-person Effect
merasa orang lain gampang dipengaruhi iklan tapi diri kita kebal
Pernahkah kita melihat iklan obat penumbuh rambut yang janjinya sangat bombastis di media sosial? Atau mungkin melihat kampanye politik yang argumennya terdengar sangat tidak masuk akal? Reaksi pertama kita biasanya tersenyum sinis sambil membatin, "Siapa sih yang bakal kemakan omongan murahan begini?" Kita merasa pintar. Kita merasa analitis. Kita merasa kebal. Tapi anehnya, di saat yang sama, produk atau politikus itu laku keras. Jutaan orang mendukungnya. Jadi, siapa sebenarnya yang terpengaruh? Apakah orang-orang di luar sana memang sebodoh itu, atau justru ada yang diam-diam salah dengan cara otak kita sendiri bekerja?
Untuk menjawabnya, mari kita mundur sebentar ke era Perang Dunia II. Saat itu, pasukan Jepang sering menyebarkan selebaran propaganda dari udara di wilayah kepulauan Pasifik. Isinya membujuk tentara Amerika kulit hitam untuk menyerah, dengan narasi bahwa perang ini adalah perangnya orang kulit putih, bukan perang mereka. Menariknya, para perwira kulit putih Amerika yang membaca selebaran itu merasa biasa saja dan sama sekali tidak terpengaruh. Namun, mereka justru panik luar biasa. Mereka panik bukan karena mereka percaya isi selebaran itu, tapi karena mereka yakin pasukan kulit hitam di bawah komando mereka pasti akan mudah dicuci otaknya. Buktinya? Nyaris tidak ada satu pun tentara yang membelot karena selebaran itu. Ketakutan tersebut ternyata hanya ilusi yang hidup di kepala para perwira. Fenomena aneh ini menggelitik rasa penasaran para ilmuwan perilaku di tahun-tahun berikutnya. Kenapa kita selalu merasa akal sehat kita jauh lebih superior dibandingkan kelompok lain?
Pertanyaan sejarah ini membawa kita pada sebuah paradoks konyol dalam kehidupan modern kita sehari-hari. Coba teman-teman perhatikan polanya. Saat ada tren antrean panjang demi secangkir kopi susu viral atau gadget keluaran terbaru, kita sering berkata, "Ah, mereka beli cuma karena ikut-ikutan tren FOMO (Fear of Missing Out). Dasar korban iklan." Tapi, saat kita yang sedang antre membeli gadget yang sama, kita akan beralasan, "Oh, saya beli ini karena butuh prosesornya, kameranya menunjang pekerjaan, ini investasi jangka panjang." Perhatikan kontradiksinya? Orang lain selalu kita anggap sebagai korban iklan, sedangkan kita melihat diri kita sendiri sebagai konsumen rasional. Jika semua orang di bumi ini merasa dirinya adalah individu rasional yang kebal terhadap manipulasi media, lalu triliunan rupiah yang dihabiskan perusahaan raksasa untuk biaya marketing itu menargetkan siapa? Apakah otak kita sedang menyembunyikan sebuah rahasia gelap dari kesadaran kita sendiri?
Rahasia besar itu akhirnya dibongkar oleh seorang sosiolog bernama W. Phillips Davison pada tahun 1983. Ia merumuskan fenomena ini dan memberinya nama Third-person Effect (Efek Orang Ketiga). Secara ilmiah, ini adalah bias kognitif di mana kita secara konsisten menaksir bahwa pesan media massal memiliki pengaruh yang jauh lebih besar terhadap "orang lain" (orang ketiga) daripada terhadap diri kita sendiri (orang pertama). Kenapa otak kita melakukan kebohongan ini? Jawabannya ada pada mekanisme pertahanan ego dan apa yang di psikologi disebut sebagai optimism bias. Otak manusia berevolusi untuk melindungi harga diri dan identitas kita. Mengakui bahwa kita mudah ditipu iklan sama saja dengan mengakui kelemahan intelektual. Jadi, bagian otak kita yang mengurus pemikiran rasional menciptakan semacam perisai ilusi. Ilusi ini berbisik manis bahwa kita memegang kendali penuh atas logika kita, sementara massa di luar sana digerakkan seperti zombi oleh algoritma dan promosi murahan. Padahal, sains keras membuktikan sebaliknya. Kita sama rentannya. Di mata orang lain, kita inilah si "orang ketiga" tersebut.
Menyadari keberadaan bias ini sebenarnya adalah sebuah pengalaman yang sangat melegakan, sekaligus menampar ego kita pelan-pelan. Saat kita akhirnya sadar bahwa kita tidak sekebal itu terhadap hoaks, diskon, atau narasi media, kita justru baru saja mulai melatih kemampuan berpikir kritis yang sesungguhnya. Berpikir kritis yang sejati tidak pernah dimulai dengan meremehkan kecerdasan orang lain. Ia selalu dimulai dari keberanian untuk meragukan isi kepala kita sendiri. Jadi, besok-besok kalau teman-teman melihat orang lain memborong barang diskon yang tampak tidak berguna, jangan buru-buru menghakimi mereka. Tarik napas sebentar. Tersenyumlah dengan penuh empati. Karena sangat mungkin, minggu depan giliran kita yang diam-diam menekan tombol checkout untuk barang yang sebenarnya tidak kita butuhkan, sambil meyakinkan diri sendiri, "Kalau yang ini beda, aku beneran butuh." Tidak apa-apa. Kita semua manusia, dan kadang-kadang, sedikit tertipu oleh rasa hebat di kepala sendiri adalah bagian tak terpisahkan dari pengalaman menjadi manusia.